Alam sebagai saksinya

16.51 Unknown 0 Comments


‘’Lihat ri,matahari sudah mau terbenam’’.ucap farah kepadaku.
  
’oh,mana ukh?’’.sahutku antusias.lalu farah menunjukkanku sebuah garis keoranyean di balik gedung yang menjulang dihadapan kami.

Farah,saudariku seiman yang amat ku sayangi dan menyayangiku.Aku menganggapnya sama seperti saudara kandungku sendiri.Islamlah yang telah mempertemukan kami dalam sebuah majelis ilmu pekanan yang sering kami sebut sebagai liqo,yaitu pertemuan pekanan dimana kami saling bercerita,belajar dan saling menyemangati setiap pekannya sehingga setiap hari dalam sepekan tersebut kami mampu menguatkan diri untuk selalu meningkatkan kualitas diri baik secara duniawi maupun ukhrawi.Di pertemuan itu pulalah pupuk persaudaraan ini timbul.

Kesenanganku dan farah ketika pulang dari liqo setiap hari jumat sore yaitu berjalan kaki  ditrotoar pejalan kaki pettarani depan PT.Telkom.Farah senang melihat matahari terbenam dibalik gedung-gedung yang menjulang tinggi. Farah tak pernah bosan memandang matahari walau penghalangnya yang berupa gedung-gedung tinggi sudah tak terhitung lagi jumlahnya.

Ketika farah sibuk memperhatikan matahari,aku lebih sering memandang anak-anak matahari yang mulai lahir ketika petang menjelang.Anak-anak matahari itu banyak sekali jumlahnya. ratusan bahkan mungkin ribuan anak matahari yang melewati kami,mereka bertengger disetiap kendaraan,menciptakan harmoni tersendiri.terutama ketika suara klakson dan peluit polisi lalu lintas maupun relawan-relawan yang membantu mengamankan jalanan seirama dengan anak-anak matahari yang menyala tersebut.inilah yang paling kusenangi,ketika kubayangkan anak-anak matahari itu menemani sebuah kendaraan seorang ayah yang sudah dinantikan oleh anak dan istrinya dirumah untuk berakhir pekan.atau mungkin menemani seorang relawan yang akan segera mengantarkan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan dan sudah menantinya dengan penuh kesenangan.aah,indahnya sore dihari jum’at.

Aku selalu yakin bukan hanya aku yang menyadari keindahan ini karena kulihat pelanggan es kelapa yang berjejer disepanjang trotoar selalu penuh disore hari.Mereka singgah melepas penat,bercengkerama dengan teman sambil menikmati riuh rendahnya kesibukan kota,itulah yang mereka lakukan.Walaupun banyak pula yang menggerutu karena debu yang beterbangan tak mengenal arah.

‘’Eh,ri..kita ingat dua tahun lalu waktu masih kelas 1 SMA ki?selaluki dulu jalan bertiga di’ setiap pulang liqo?’’.tanya farah.
‘’Iya dong,saya ingat..duh,kangenku deh sama naila..’’sahutku.
‘’Iya..bagaimana kabarnya itu saudarita di’?’’
‘’Hem,entahlah ukh..semoga dia tetap istiqomah di jalan-Nya.yang penting adalah kita tak pernah melupakannya disetiap doa kita’’.
‘’Iya,semoga yang terbaik selalu dia dapatkan dan mudah-mudahan kita bisa bertemu kembali ya ukh’’.
‘’Youp..’’.

Percakapan seperti inilah yang membuatku nyaman bersama saudari-saudariku di liqo terutama farah.percakapan yang tak pernah mencoba untuk mengungkapkan aib bahkan untuk bersu’udzon pun selalu kami usahakan untuk terhindar darinya.kata murobbyah (istilah pembimbing di liqo akhwat) kepada kami bahwa ketika kita membicarakan aib saudara sendiri sama dengan memakan dagingnya.Oleh karena itu,yang sebaiknya dilakukan adalah mendoakan dan berhusnudzon kepadanya walaupun gibah telah menyebar disekitar kami tentangnya.Ketika tidak kuat menahan atau sangat penasaran akan kebenaran ghibah tersebut maka sebaiknya bertabayyun (atau menanyakan langsung kepada orang yang bersangkutan).Begitulah kami mengikat persaudaraan.Yang kami lakukan adalah saling menyayangi,saling menasehati,mengingatkan ketka khilaf,saling menyemangati dan saling mendoakan.Aku selalu bertanya bahwa adakah persaudaraan yang lebih indah dari ini?

Setelah tiba dirumah,aku menunaikan shalat magrib.Ketika doa kupanjatkan,aku teringat kembali saudariku naila yang sudah dua tahun tak pernah lagi kutatap rupanya.rupanya yang cantik,kerudungnya yang menandakan kesungguhannya dalam keinginan untuk meningkatkan aktualisasi diri,ucapannya yang selalu menyegarkan hati sesegar udara kampung yang selalu diceritakannya.Dia kembali ke kampung halamannya ketika sosok yang dihormati dan dicintainya mendahuluinya menghadap Rabb alam semesta.

Aku,Farah dan Naila adalah saudari dalam satu liqo’.Persahabatan kami sangat erat,tak pernah kurasakan sebelumnya keindahan persahabatan seperti indahnya persahabatan kami.Naila berasal dari sebuah desa di ujung Kab.Bone selatan tepatnya kec.Kajuara desa waetuo.Dia melanjutkan sekolah dimakassar dan tinggal dirumah pamannya.Naila tak pernah mengeluh walau kulihat raut kelelahan setiap pagi tercermin diwajahnya ketika kami bertemu disekolah.Raut yang menggambarkan bagaimana kerasnya ia bekerja dan belajar setiap hari.Dia belajar setelah sholat isya ketika pekerjaan membantu tantenya untuk menyiapkan makan malam dan mencuci piring telah tuntas.Tak pernah mengenal putus asa atau bermanja-manja,dia menuntaskan semua tugas rumah dan mengulang pelajaran untuk hari berikutnya.Pukul tiga subuh dia terbangun untuk shalat tahajjud dan mengulang hafalan al-qur’an,setelah itu dia tidak akan melanjutkan tidur karena harus bersiap-siap mengambil Koran di kantor penerbit untuk diantarkan kerumah pelanggan.Dia menggunakan motor pamannya yang dipinjamnya setiap hari untuk mengantarkan Koran,namun harus di kembalikan sebelum naila berangkat kesekolah.Pamannya sangat baik hati dan pengertian,dia mengerti bagaimana naila ingin berusaha membiayai diri sendiri dari hasil keringatnya,walaupun sebenarnya sudah berpuluh kali dia meminta naila untk berhenti mngentarkan Koran ,karena dia ingin mmbantu keponakannya tersebut.Namun,naila yang berjiwa mandiri dan penuh semangat  selalu mampu mengalahkan argumennya.

Begitulah kehidupan naila yang selalu kukagumi,hidupnya yang selalu semangat dan optimis.

Ketika Sosok ayah yang dicintai naila sudah dipanggil oleh Rabb-nya,Naila tak pernah mengeluh maupun mengurung diri.Dia selalu percaya bahwa Allah akan menerima ayahnya yang baik itu di di sisi-Nya.Namun hari itu,aku terheran-heran dan ikut tersentuh ketika air matanya bercucuran tak mampu tertahankan lagi ketika tiba saatnya untuk menyampaikan kabar kami dalam satu pekan dalam agenda liqo yang kami jalani.Ketika tiba gilirannya,dia hanya tertunduk memegang erat tanganku yang berada di sampingnya,kuusap tangannya,kuharap dengan itu dia bisa tenang dan kembali menemukan dirinya yang penuh semangat.Namun,dia kembali terisak hingga kamipun tak tahan untuk tak ikut menangis.10 menit sudah berlalu,orang-orang didalam mesjid tempat liqo kami sudah berhenti menatap kami yang saling berpegangan untuk saling menenangkan,kemudian naila membuka suara yang sudah kami tunggu-tunggu dari tadi..

‘’Kabar saya pekan ini,Alhamdulillah baik,keluarga juga baik’’..kami menghembuskan nafas pelan.tak lama kemudian,Naila melanjutkan ucapannya.’’Namun,pada kesempatan ini,saya ingin meminta maaf kepada akhwat (istilah untuk saudari seiman) yang hadir hari ini maupun yang tidak sempat hadir.Tolong doakan saya semoga saya istiqomah.Saya tak akan pernah melupakan ukhuwah(persaudaraan) yang telah terjalin dilingkaran kecil ini (istilah lain untuk liqo).InsyaAllah,besok sore saya sudah harus kembali kekampung saya di Bone untuk berbakti kepada orang tua.Saya ingin menemani ummi saya yang tinggal sendiri di rumah kami.Doakan saya ukh,semoga niat saya ini diridhoi oleh-Nya.InsyaAllah saya akan mendapatkan saudari-saudari baru disana baik disekolah maupun diliqo baru saya nantinya.aamiin’’.

Tak terelakkan lagi,tangis kami pecah..kami bersama-sama merangkul naila,saling bermaafan dan tak ingin melepaskannya.Kami ingin naila menyadari bahwa dimanapun kami berada ukhuwah karena Allah akan tetap terjalin walaupun hanya melalui doa-doa kami.

Akhir ajaran baru telah tiba,saya dan Farah disibukkan dengan persiapan menghadapi ujian Nasional yang sudah di ujung penglihatan.Kursus di sekolah maupun bimbingan belajar kami ikuti,belajar siang malam tak pernah bosan kami jalani.Namun demikian liqo tetap menjadi agenda utama.Agenda yang memicu semangat kami untuk berusaha lebih keras lagi dalam meningkatkan cara belajar dan giat beribadah.Semua itu ku lalui hingga UN serentak tiba dan menghasilkan nilai yang memuaskan.

Ujian Nasional sudah selesai,saatnya kami mendaftar di universitas yang kami impikan.Aku mendaftar di Universitas Indonesia dan Universitas Uin Alauddin Makassar,sementara farah mendaftar di Universitas Negeri Makassar dan Universitas Pertanian Bogor.Dan Alhamdulillah aku dan farah lulus di kedua universitas tersebut.Tapi,Kami harus memilih salah satu di antaranya.Kuliah perdana juga masih menunggu satu bulan kemudian.

Hari jumat sore yang indah,aku dan farah kembali menyusuri trotoar ujung pettarani ketika tiba-tiba ponselku berdering dan ternyata yang menghubungiku adalah saudariku yang telah lama kurindukan suara dan kehadirannya.Saudari yang selalu mendoakanku disetiap ujung malamnya,saudariku yang kucintai karena Allah.Naila mursihah.

Indah suaranya mengalihkan perhatian kami dari memandang matahari dan anak-anaknya yang mulai ramai.
‘’Riani dan Farah,bagaimana kabar kalian ukh??kangen sekali ka ee’’..ucap Naila.
‘’Iya,kangen..alhamdulillah baikji ukh,kita iyya??’’.ucapku serempak dengan farah.

Percakapan kami berlanjut hingga tiba-tiba Naila memberikan berita yang sangat menggembirakan.
‘’Ukh,minta maafka’ tidak bisaka’ kirimkanki undangan.tapi saya mohon hadirki nah..insyaAllah dua pekan kedepan saya walimah’’.
‘’Barokallah laki yaa ukhty..insyaAllah kami akan hadir,tapi kami tidak tahu kerumahta’’.
‘’Ah,gampang ukh..sudah saya atur..satu hari sebelm hari –H kerumahnyaki om ku,nanti samaki om ku kesini nah..Murobbiyah juga sudah saya hubungi,insyaAllah sebentar saya hubungi akhwat yang lain’’.
‘’Okey deh ukh,insyaAllah siap meluncur..tak sabarma mau ketemu’’.

Satu hari sebelum hari H kami sudah melaju kerumah Naila.Seperti yang sering diceritakan Naila.Menuju kerumahnya seakan-akan berjalan menuju surga.Walaupun penuh dengan rintangan karena jalanan yang berkelok-kelok di daerah yang kami harus lewati yaitu sekitar daerah camba kab.Maros namun semua akan terbayarkan ketika memandang matahari yang akan tenggelam,sawah menghijau yang bersusun apik dan membentuk tangga yang indah..langit yang biru dan awan yang putih jelas terlihat diatas kami..Subhanalloh,belum lagi udaranya yang segar,lebih segar dari embun dipagi hari di kota Daeng.Betapa Maha Besarnya Sang Pemilik karya keindahan ini.Mulut kami tak pernah terlepas dari dzikir mengagumi kebesaran Sang Maha Karya.

Tiba dirumah Naila,keindahan Ciptaan Allah berupa alam terlengkapi dengan hadirnya keindahan Ukhuwah islamiyah yang  terjalin diantara kami.Tak hentinya kami betukar cerita tentang hidup kami dan alam ciptaan Allah yang mampu menyegarkan mata dan fikiran kami.

Yang paling dibanggakan Naila dari kampungnya adalah air yang mengalir jernih setiap waktu.karena kampungnya merupakan sumber mata air utama untuk beberapa daeah disekitarnya.

Kini kusadari Desa maupun kota memiliki keindahan tersendiri,tergantung bagaimana kita menanggapi dan mensyukuri keberadaan kita dan keberadaan alam tersebut yang kemudian menjadi saksi bagi kita bahwa Sang Pencipta benar-benar ada dan Maha Besar.Allahu Akbar.

0 komentar:

Andai Aku Jadi Presiden

05.24 Unknown 8 Comments


Andai Aku Jadi Presiden-Saya sangat senang mendapat info tentang lomba blog festival : DESIGN AND ARTICLE WRITING CONTEST (DAWC) dengan tema “Andai Aku Jadi Presiden” yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Sinjai (KBS)dan FESTIK Sinjai.Oleh karena itu,melalui lomba tersebut saya ingin ikut berpartisipasi dengan membuat susunan kalimat yang berbentuk surat sederhana seperti dibawah ini.Namun sebelumnya,seya ingin menyampaikan Terima kasih dan Selamat kepada Komunitas Blogger Sinjai (KBS) atas terselanggaranya kegiatan ini.

SURAT UNTUK INDONESIA “Andai Aku Jadi Presiden”

SULSEL, Juli 2013

Kpd. Indonesiaku Tercinta ,
Di
6° LU -11°LS dan 95°BT - 141° BT

Assalaamu’alaikum WR.WB

Bagaimana kabarmu Indonesiaku?Aku berharap engkau senantiasa aman,sejahtera dan menjadi Negara yang selalu terlimpahkan rahmat dan berkah dari-Nya.Tak lama lagi,HUT Proklamasi mu yang 68 Tahun akan diselenggarakan.Tak terasa yah,sudah 68 Tahun engkau dinyatakan merdeka oleh dunia.

Seperti baru kemarin guruku di sekolah mengiangkan namamu ditelingaku.Menceritakan segala hal tentangmu di masa lalu.Tentang deritamu dalam penjajahan,tentang tertawamu dalam pembacaan proklamasi,tentang banggamu terhadap pahlawan-pahlawan yang berguguran.Sejak saat itu aku mulai membangun cintaku kepadamu.

Kini aku mulai mengerti bahwa banyak perasaan-perasaan aneh yang sedang kau rasakan.Bukan hanya perasaan dan sebab yang diceritakan guruku dulu.Aku tahu bahwa kini engkau KECEWA dan MARAH.

Engkau Kecewa terhadap mereka yang mengaku cinta kepadamu namun menghianatimu dengan terang-terangan.Mereka membuat rakyatmu memiliki perut buncit namun keroncongan,tulang-tulang rakyatmu hanya dibungkus sehelai tipis kulit tanpa daging.Sementara mereka membuat perutnya buncit karena kelebihan “makan”.Mereka adalah KORUPTOR.Koruptor sang penghianat cinta.Koruptor yang menghianatimu dengan terang-terangan dirumahmu sendiri.

Engkau marah kepada para pemegang kekuasaan yang berkuasa semena-mena tanpa menoleh kebelakang melihat janji-janjinya pada berjuta kepala rakyatmu.

Engkau marah pada para penegak hukum yang tak lagi menegakkan hukum dengan benar.Pada mereka yang mudah menyerahkan tangannya dibawah pundi-pundi yang menyilaukan mata.

Engkau marah dan kecewa pada rakyatmu yang selalu menuntut untuk hidup sejahtera,untuk dilayani dengan sebaik-baiknya,yang selalu ingin dimanja oleh penguasa,yang selalu menuntut agar keadilan dan hukum ditegakkan dengan benar.Namun mereka tak berkaca diri.Tak melihat diri bahwa mereka yang menjadi biang keladi sehingga banyak penguasa berkhianat terhadap janjinya karena menyilaukan mata mereka dengan koin-koin berkilau.

Mungkin engkau pusing kini,Indonesiaku.Mungkin engkau sudah muak,marah,sedih atau berteriak sekencang-kencangnya?Kulihat kesedihanmu tertuang dimana-mana,digunung dengan gempanya,didaratan rendah dengan banjirnya,dikantor dan parlemen-parlemen dengan fitnah yang bertaburan.Marahlah,kecewalah jika itu yang bisa membuat mereka mengerti rasamu kini.
AAAAAhhhh….Aku,ingin membantumu berteriak.Kasian sekali kamu,Indonesiaku.

Namun sekarang aku bertekad bahwa aku tak akan membuat bersedih lagi.Akan kuredam amarah dan kecewamu karena jika aku jadi presiden aku akan mencintaimu dengan sebesar-besarnya cintaku,setulus cintaku,karena aku tahu bahwa cinta yang akan membuat segalanya indah.cinta yang akan menggerakkan kaki yang beku.

Jika aku jadi presiden,akan kutabur benih cinta di kota,di desa,di kawasan elit maupun kawasan kumuh.Akan kumohon pada Allah SWT,Sang penganugerah cinta agar menumbuhkan lebih banyak cinta dihati rakyatmu,dihati para pejabat,dan dihati seluruh makhluk.Sehinggan para kaum elite dan para pejabat melayani rakyat dengan penuh cinta,mendahulukan kepentingan rakyat daripada perutnya yang tidak lagi buncit karena kekuasaan.

Ketika mereka sudah bekerja dengan penuh cinta,maka rakyat akan menyambutnya dengan cinta yang berlebih.Mereka akan tersenyum sepanjang waktu,akan menghormati dan mempercayai para mereka.Sungguh yang dibutuhkan kini adalah cinta,keterbukaan,kejujuran dan kepercayaan di semua pihak.

Karena cinta,Aku dan para anggota dewan akan mewujudkan suara hati rakyat yang sebenar-benarnya tanpa ada kepentingan apapun.
Karena cinta,rakyat akan menitipkan kepercayaan kepadaku dan pejabatku dengan sepenuh hati mereka.

Jika ini terpenuhi maka Sang Penganugerah cinta tak akan kecewa karena cinta yang dititipkannya dimanfaatkan dengan baik.Selain itu kualitas SDM rakyatmu juga tak dapat diragukan,karena mereka belajar dan bekerja dengan penuh cintaa.Mereka akan memanfaatkan kekayaanmu yang banyak itu dengan sebaik-baiknya sehingga bertambah-dan bertambah lagi.Mereka akan bangga menjadi rakyatmu.mereka tidak akan melirik milik luar negeri termasuk produk dan budaya mereka.Karena mereka memiliki yang terbaik.Mereka akan bangga menjadi rakyat dinegeri yang penuh cinta.Negeri yang memiliki keterbukaan informasi dan kepercayaan penuh oleh semua pihak.

Aku tahu bahwa itu tidak semudah membalik telapak tangan,namun aku tahu mimpimu sama dengan mimpiku bukan?Yang kuinginkan kini sama dengan inginmu.Maka,kuharap engkau dapat tersenyum sumringah lagi sama seperti saat pembacaan proklamasi lalu saat harapan selalu ada dan kita genggam erat agar suatu saat kita dapat mewujudkannya dengan gemilang.Indonesiaku,Semangat 45!!!
Wassalaamu’alaikum

Hormatku

Andai aku jadi Presiden



8 komentar:

SAKURA di Negeri Hujan

22.22 Unknown 0 Comments


Hujan bulan ini terus berguyur menemani air mata rindu padamu.Engkau yang dulu ada menggenggam tanganku,kini terbaring panjang dalam keabadian.Maka pintaku kini,biarkan hujan menemani airmataku dan menyampaikan asaku dengan tetesannya diatas nisanmu.Biarkan rasa kita tetap bersatu walau dunia mengakhiri.
Yudha kembali terpekur diperpustakaan kampusnya.Kata ‘hujan’ seakan telah tertanam jauh diurat-urat sarafnya.walau demikian,dia tak pernah bosan membaca cerpen racikan Sakura.
Entah sejak kapan cerpen Sakura telah merasuki otaknya,yang dia ingat disetiap cerpen Sakura kata ‘hujan’ selalu melekat dan menyatu dalam setiap frase.Bukan hanya kata ‘hujan’ yang membuatnya tertarik tapi penghayatan yang mendalam dan kata-kata yang tak pernah dikiranya bahwa diotak bagian mana Sakura menemukan kata itu.
Seperti hari ini,Yudha kembali membaca karya Sakura disebuah koran harian Nasional dan seperti biasa,dia tak pernah membacanya hanya sekali baca tapi berulang-ulang.Dia merasa rindunya pada sang peracik kata tak pernah berakhir hanya dengan sekali baca.
SAKURA,entah mengapa Yudha merasa bahwa Sakura sang pecinta hujan adalah sosok yang merindukan kekasih yang berjiwa teduh namun teguh,dan orang itu adalah dirinya.Karenanya,disetiap hujan Yudha terus mencari makna hujan agar ketika bertemu Sakura dirinya telah benar-benar menjadi sosok bersifat hujan yang teduh dan teguh.
Informasi tentang Sakura dicarinya dimana-mana.Di facebook,di Twitter,juga mengoleksi setiap karya Sakura yang dibacanya.Namun,tampaknya pencariannya tidak berjalan semulus turunnya hujan,yang dia temukan hanya sebuah blog yang kebetulan tertulis di sudut tulisan Sakura di sebuah harian ibukota.’www.Sakura di Negeri Hujan.com’ demikian nama blog tersebut.
Maka tak menunggu waktu lama,Yudha segera membuka laptop dan mencari blong Sakura.Ditelusurinya setiap jengkal blog tersebut,diresapinya setiap sari-sari makna yang tertulis.Namun,sepertinya Yudha harus menyadari bahwa cinta akan datang tepat pada waktunya meski harus menunggu berpuluh atau beratus tahun.

0 komentar:

Syukron Lak...

00.45 Unknown 0 Comments


Terima kasih,syukron lak..
Karena hari ini surat cinta-Mu,sudah berada dalam genggamanku…
Karena hari ini surat cinta-Mu,akan selalu menemani setiap langkahku…
Karena hari ini surat cinta-Mu,masih menuntunku …

Terima kasih,syukron lak…
Atas kado alam semesta untuk makhluk nista seperti kami …
Atas kado keseimbangan bumi,sehingga kami tidak kepanasan ataupun kedinginan …
Atas kado pergantian siang dan malam …
Atas kado gunung-gunung yang menjulang tinggi...

Terima kasih,syukron lak...
Atas kasih sayang-Mu yang tak pernah usai ...
Atas terukurnya hujan yang Kau turunkan ...
Atas terciptanya lapisan-lapisan langit ...
Atas indahnya bulan ….
Atas banyaknya bintang …
Terima kasih,Syukron lak …

Subhanalloh,Subhanalloh..
Jika hanya untuk berkembang biak,mengapa pohon mangga tidak berbuah satu biji saja?
Karena manusia butuh bernapas dengan oksigen,mengapa jumlah nitrogen lah yang paling banyak di bumi?
Bagaimana bumi bisa bertahan dari besarnya tarikan gaya gravitasi matahari?
Bagaimana bumi tidak kepanasan?bagaimana bumi tidak kedinginan?
Bagaimana bumi tidak terbakar dengan kandungan laharnya?
Mengapa hujan jatuh hanya berupa tetesan?
Mengapa tetesan hujan dengan tekanan yang sangat besar tidak melukai tubuh?tidak membocorkan atap?
Mengapa ada bintang?mengapa ada bulan?
Subhanalloh,subhanalloh ..
Nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

0 komentar:

Cinta itu .........

09.05 Unknown 0 Comments


Cinta, Cinta, dan Cinta…
5 huruf yang selalu menghapuskan kesedihan
1 kata yang selalu membangkitkan semangat juang
Cinta, Cinta, dan Cinta…

Tak ada habisnya jika kita berbicara cinta, apalagi bagi engkau yang masih muda
Seakan cinta menjadi magnet yang kuat dalam hidup ini…
Indahnya cinta kawan,
Kau rugi jika tidak merasakan cinta,
Kau sesal jika tidak mendapatkan cinta,
Kau salah jika tidak mengekspresikan cinta
Kau akan segera bersedih hati jika tidak mengamalkan cinta
 
Dan untukmu wahai punggawa dakwah…
Kita akan bertemu dan disatukan pada
Jalan Cinta Para Pejuang
(Dari sebuah link motivator)


Cinta cinta dan cinta,manusia tak pernah bosan memperbincangkannya. Dia menjadi topic yang akan banyak menarik perhatian dan sangat diminati walaupun dia menjadi bahan obrolan di sepanjang waktu. Saya tak pernah mengerti kekuatan apa yang dibawa oleh benda, zat, roh, rasa atau apapun jenisnya, yang jelas saya mendengar dan mengenalnya dengan kata cinta. Saya juga tak pernah mengerti mengapa cinta itu begitu keren, dia begitu misterius walaupun dia dibicarakan disudut kota, di supermarket, di sekolah, dikampus di kajian-kajian bahkan di masjid sekalipun.
Cinta, ketika kita mempertanyakan definisinya, maka setiap orang akan punya jawabannya masing-masing. Namun, jawaban mereka mungkin saja disandarkan kepada pengalaman dan tujuan hidup masing-masing. Sang agamawan, akan mendefinisikan cinta dengan kaitannnya dengan agama. Sang materialistis akan mendefinisikan cintanya dengan hal-hal yang berkaitan dengan materi. Sang Jenius akan mendefinisikan cintanya dengan hal-hal yang berbau ilmu, dsb. Lalu menurutmu, definisi cinta itu seperti apa?

Saya tak pernah mengerti bagaimana wujud dan definisi cinta itu. Namun, saya begitu kagum kepada mereka yang bisa menjalani cinta karena Allah. Mampu mencintai Sang Pencipta Cinta dengan segala keteguhan hatinya, mencintai Rosul dengan mengerahkan segala kemampuan dan pengorbanan yang dapat mereka lakukan untuk terus mengumandangkan takbir di seluruh penjuru negeri. Mereka yang dapat mencintai makhluk dengan cinta yang indah, cinta yang dapat mengantar kepada Jannah-Nya. Mereka manjalani dan meningkatkan rasa cinta dengan bertahlil, bertakbir dan bertasbih disepanjang waktu.
Saya begitu kagum kepada orang kaya yang mendermakan hartanya di jalan-Nya. Saya begitu kagum kepada sang jenius yang mengajarkan dan mengamalkan ilmu karena-Nya. Saya begitu kagum kepada si Ningrat yang melindungi keluarga dan rakyatnya karena Allah. Saya begitu kagum kepada si gembel yang menjalani hidupnya dengan sabar dan cinta yang terus bertambah kepada pencipta-Nya. Dan saya begitu kagum kepada pejuang-pejuang agama Allah dengan segenap pengorbanannya.

Bukankah begitu agung ketika kita mampu mencintai cinta dengan menyandarkan segalanya kepada Sang Pencipta Cinta. Lalu,mengapa kita masih ragu untuk memaksimalkan waktu dengan merefleksikan cinta yang suci itu. Mengapa kita masih tenang ketika kita melalaikan shalat, padahal itu adalah permintaan Sang Penganugrah cinta, mengapa kita masih merasa tentram dan mampu tertawa besar ketika kita tak pernah membuka surat cinta dari-Nya? bukankah sang pencinta akan merasa bahagia ketika berhadapan dengan hal-hal yang berasal dari yang dicintainya? mengapa kita masih tenang ketika melihat sang fakir sedang kesusahan? mengapa kita masih tenang ketika agama yang mengajarkan sejuta cinta tak lagi dianggap?

Astaghfirullahal-‘adziym .. adakah kita masih di anugrahkan cinta ketika kita lalai terhadap perintah-Nya?


"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.  Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar Ra’d:28)

0 komentar: