Alam sebagai saksinya
‘’Lihat
ri,matahari sudah mau terbenam’’.ucap farah kepadaku.
’oh,mana ukh?’’.sahutku
antusias.lalu farah menunjukkanku sebuah garis keoranyean di balik gedung yang
menjulang dihadapan kami.
Farah,saudariku
seiman yang amat ku sayangi dan menyayangiku.Aku menganggapnya sama seperti
saudara kandungku sendiri.Islamlah yang telah mempertemukan kami dalam sebuah
majelis ilmu pekanan yang sering kami sebut sebagai liqo,yaitu pertemuan pekanan dimana kami saling bercerita,belajar
dan saling menyemangati setiap pekannya sehingga setiap hari dalam sepekan tersebut
kami mampu menguatkan diri untuk selalu meningkatkan kualitas diri baik secara
duniawi maupun ukhrawi.Di pertemuan itu pulalah pupuk persaudaraan ini timbul.
Kesenanganku
dan farah ketika pulang dari liqo
setiap hari jumat sore yaitu berjalan kaki
ditrotoar pejalan kaki pettarani depan PT.Telkom.Farah senang melihat
matahari terbenam dibalik gedung-gedung yang menjulang tinggi. Farah tak pernah
bosan memandang matahari walau penghalangnya yang berupa gedung-gedung tinggi
sudah tak terhitung lagi jumlahnya.
Ketika
farah sibuk memperhatikan matahari,aku lebih sering memandang anak-anak
matahari yang mulai lahir ketika petang menjelang.Anak-anak matahari itu banyak
sekali jumlahnya. ratusan bahkan mungkin ribuan anak matahari yang melewati
kami,mereka bertengger disetiap kendaraan,menciptakan harmoni
tersendiri.terutama ketika suara klakson dan peluit polisi lalu lintas maupun
relawan-relawan yang membantu mengamankan jalanan seirama dengan anak-anak
matahari yang menyala tersebut.inilah yang paling kusenangi,ketika kubayangkan
anak-anak matahari itu menemani sebuah kendaraan seorang ayah yang sudah
dinantikan oleh anak dan istrinya dirumah untuk berakhir pekan.atau mungkin
menemani seorang relawan yang akan segera mengantarkan bantuan kepada
orang-orang yang membutuhkan dan sudah menantinya dengan penuh
kesenangan.aah,indahnya sore dihari jum’at.
Aku selalu yakin bukan hanya aku yang
menyadari keindahan ini karena kulihat pelanggan es kelapa yang berjejer
disepanjang trotoar selalu penuh disore hari.Mereka singgah melepas
penat,bercengkerama dengan teman sambil menikmati riuh rendahnya kesibukan kota,itulah
yang mereka lakukan.Walaupun banyak pula yang menggerutu karena debu yang
beterbangan tak mengenal arah.
‘’Eh,ri..kita
ingat dua tahun lalu waktu masih kelas 1 SMA ki?selaluki dulu jalan bertiga di’
setiap pulang liqo?’’.tanya farah.
‘’Iya
dong,saya ingat..duh,kangenku deh sama naila..’’sahutku.
‘’Iya..bagaimana
kabarnya itu saudarita di’?’’
‘’Hem,entahlah
ukh..semoga dia tetap istiqomah di jalan-Nya.yang penting adalah kita tak
pernah melupakannya disetiap doa kita’’.
‘’Iya,semoga
yang terbaik selalu dia dapatkan dan mudah-mudahan kita bisa bertemu kembali ya
ukh’’.
‘’Youp..’’.
Percakapan
seperti inilah yang membuatku nyaman bersama saudari-saudariku di liqo terutama farah.percakapan yang tak
pernah mencoba untuk mengungkapkan aib bahkan untuk bersu’udzon pun selalu kami
usahakan untuk terhindar darinya.kata murobbyah
(istilah pembimbing di liqo akhwat) kepada kami bahwa ketika kita membicarakan
aib saudara sendiri sama dengan memakan dagingnya.Oleh karena itu,yang
sebaiknya dilakukan adalah mendoakan dan berhusnudzon kepadanya walaupun gibah
telah menyebar disekitar kami tentangnya.Ketika tidak kuat menahan atau sangat
penasaran akan kebenaran ghibah tersebut maka sebaiknya bertabayyun (atau menanyakan langsung kepada orang yang
bersangkutan).Begitulah kami mengikat persaudaraan.Yang kami lakukan adalah
saling menyayangi,saling menasehati,mengingatkan ketka khilaf,saling
menyemangati dan saling mendoakan.Aku selalu bertanya bahwa adakah persaudaraan
yang lebih indah dari ini?
Setelah
tiba dirumah,aku menunaikan shalat magrib.Ketika doa kupanjatkan,aku teringat
kembali saudariku naila yang sudah dua tahun tak pernah lagi kutatap
rupanya.rupanya yang cantik,kerudungnya yang menandakan kesungguhannya dalam
keinginan untuk meningkatkan aktualisasi diri,ucapannya yang selalu menyegarkan
hati sesegar udara kampung yang selalu diceritakannya.Dia kembali ke kampung
halamannya ketika sosok yang dihormati dan dicintainya mendahuluinya menghadap
Rabb alam semesta.
Aku,Farah
dan Naila adalah saudari dalam satu liqo’.Persahabatan
kami sangat erat,tak pernah kurasakan sebelumnya keindahan persahabatan seperti
indahnya persahabatan kami.Naila berasal dari sebuah desa di ujung Kab.Bone
selatan tepatnya kec.Kajuara desa waetuo.Dia melanjutkan sekolah dimakassar dan
tinggal dirumah pamannya.Naila tak pernah mengeluh walau kulihat raut kelelahan
setiap pagi tercermin diwajahnya ketika kami bertemu disekolah.Raut yang
menggambarkan bagaimana kerasnya ia bekerja dan belajar setiap hari.Dia belajar
setelah sholat isya ketika pekerjaan membantu tantenya untuk menyiapkan makan
malam dan mencuci piring telah tuntas.Tak pernah mengenal putus asa atau
bermanja-manja,dia menuntaskan semua tugas rumah dan mengulang pelajaran untuk
hari berikutnya.Pukul tiga subuh dia terbangun untuk shalat tahajjud dan
mengulang hafalan al-qur’an,setelah itu dia tidak akan melanjutkan tidur karena
harus bersiap-siap mengambil Koran di kantor penerbit untuk diantarkan kerumah
pelanggan.Dia menggunakan motor pamannya yang dipinjamnya setiap hari untuk mengantarkan
Koran,namun harus di kembalikan sebelum naila berangkat kesekolah.Pamannya
sangat baik hati dan pengertian,dia mengerti bagaimana naila ingin berusaha
membiayai diri sendiri dari hasil keringatnya,walaupun sebenarnya sudah
berpuluh kali dia meminta naila untk berhenti mngentarkan Koran ,karena dia
ingin mmbantu keponakannya tersebut.Namun,naila yang berjiwa mandiri dan penuh
semangat selalu mampu mengalahkan
argumennya.
Begitulah
kehidupan naila yang selalu kukagumi,hidupnya yang selalu semangat dan optimis.
Ketika
Sosok ayah yang dicintai naila sudah dipanggil oleh Rabb-nya,Naila tak pernah
mengeluh maupun mengurung diri.Dia selalu percaya bahwa Allah akan menerima ayahnya
yang baik itu di di sisi-Nya.Namun hari itu,aku terheran-heran dan ikut tersentuh
ketika air matanya bercucuran tak mampu tertahankan lagi ketika tiba saatnya
untuk menyampaikan kabar kami dalam satu pekan dalam agenda liqo yang kami
jalani.Ketika tiba gilirannya,dia hanya tertunduk memegang erat tanganku yang
berada di sampingnya,kuusap tangannya,kuharap dengan itu dia bisa tenang dan
kembali menemukan dirinya yang penuh semangat.Namun,dia kembali terisak hingga
kamipun tak tahan untuk tak ikut menangis.10 menit sudah berlalu,orang-orang
didalam mesjid tempat liqo kami sudah
berhenti menatap kami yang saling berpegangan untuk saling menenangkan,kemudian
naila membuka suara yang sudah kami tunggu-tunggu dari tadi..
‘’Kabar
saya pekan ini,Alhamdulillah baik,keluarga juga baik’’..kami menghembuskan
nafas pelan.tak lama kemudian,Naila melanjutkan ucapannya.’’Namun,pada
kesempatan ini,saya ingin meminta maaf kepada akhwat (istilah untuk saudari seiman) yang hadir hari ini maupun
yang tidak sempat hadir.Tolong doakan saya semoga saya istiqomah.Saya tak akan
pernah melupakan ukhuwah(persaudaraan)
yang telah terjalin dilingkaran kecil ini (istilah lain untuk
liqo).InsyaAllah,besok sore saya sudah harus kembali kekampung saya di Bone
untuk berbakti kepada orang tua.Saya ingin menemani ummi saya yang tinggal
sendiri di rumah kami.Doakan saya ukh,semoga niat saya ini diridhoi
oleh-Nya.InsyaAllah saya akan mendapatkan saudari-saudari baru disana baik
disekolah maupun diliqo baru saya
nantinya.aamiin’’.
Tak
terelakkan lagi,tangis kami pecah..kami bersama-sama merangkul naila,saling
bermaafan dan tak ingin melepaskannya.Kami ingin naila menyadari bahwa
dimanapun kami berada ukhuwah karena
Allah akan tetap terjalin walaupun hanya melalui doa-doa kami.
Akhir
ajaran baru telah tiba,saya dan Farah disibukkan dengan persiapan menghadapi
ujian Nasional yang sudah di ujung penglihatan.Kursus di sekolah maupun
bimbingan belajar kami ikuti,belajar siang malam tak pernah bosan kami jalani.Namun
demikian liqo tetap menjadi agenda
utama.Agenda yang memicu semangat kami untuk berusaha lebih keras lagi dalam meningkatkan
cara belajar dan giat beribadah.Semua itu ku lalui hingga UN serentak tiba dan
menghasilkan nilai yang memuaskan.
Ujian
Nasional sudah selesai,saatnya kami mendaftar di universitas yang kami
impikan.Aku mendaftar di Universitas Indonesia dan Universitas Uin Alauddin
Makassar,sementara farah mendaftar di Universitas Negeri Makassar dan
Universitas Pertanian Bogor.Dan Alhamdulillah aku dan farah lulus di kedua
universitas tersebut.Tapi,Kami harus memilih salah satu di antaranya.Kuliah
perdana juga masih menunggu satu bulan kemudian.
Hari
jumat sore yang indah,aku dan farah kembali menyusuri trotoar ujung pettarani
ketika tiba-tiba ponselku berdering dan ternyata yang menghubungiku adalah
saudariku yang telah lama kurindukan suara dan kehadirannya.Saudari yang selalu
mendoakanku disetiap ujung malamnya,saudariku yang kucintai karena Allah.Naila
mursihah.
Indah
suaranya mengalihkan perhatian kami dari memandang matahari dan anak-anaknya
yang mulai ramai.
‘’Riani
dan Farah,bagaimana kabar kalian ukh??kangen sekali ka ee’’..ucap Naila.
‘’Iya,kangen..alhamdulillah
baikji ukh,kita iyya??’’.ucapku serempak dengan farah.
Percakapan
kami berlanjut hingga tiba-tiba Naila memberikan berita yang sangat
menggembirakan.
‘’Ukh,minta
maafka’ tidak bisaka’ kirimkanki undangan.tapi saya mohon hadirki
nah..insyaAllah dua pekan kedepan saya walimah’’.
‘’Barokallah
laki yaa ukhty..insyaAllah kami akan hadir,tapi kami tidak tahu kerumahta’’.
‘’Ah,gampang
ukh..sudah saya atur..satu hari sebelm hari –H kerumahnyaki om ku,nanti samaki
om ku kesini nah..Murobbiyah juga sudah saya hubungi,insyaAllah sebentar saya
hubungi akhwat yang lain’’.
‘’Okey
deh ukh,insyaAllah siap meluncur..tak sabarma mau ketemu’’.
Satu
hari sebelum hari H kami sudah melaju kerumah Naila.Seperti yang sering
diceritakan Naila.Menuju kerumahnya seakan-akan berjalan menuju surga.Walaupun
penuh dengan rintangan karena jalanan yang berkelok-kelok di daerah yang kami
harus lewati yaitu sekitar daerah camba kab.Maros namun semua akan terbayarkan
ketika memandang matahari yang akan tenggelam,sawah menghijau yang bersusun
apik dan membentuk tangga yang indah..langit yang biru dan awan yang putih
jelas terlihat diatas kami..Subhanalloh,belum lagi udaranya yang segar,lebih
segar dari embun dipagi hari di kota Daeng.Betapa Maha Besarnya Sang Pemilik
karya keindahan ini.Mulut kami tak pernah terlepas dari dzikir mengagumi
kebesaran Sang Maha Karya.
Tiba
dirumah Naila,keindahan Ciptaan Allah berupa alam terlengkapi dengan hadirnya
keindahan Ukhuwah islamiyah yang terjalin diantara kami.Tak hentinya kami
betukar cerita tentang hidup kami dan alam ciptaan Allah yang mampu menyegarkan
mata dan fikiran kami.
Yang
paling dibanggakan Naila dari kampungnya adalah air yang mengalir jernih setiap
waktu.karena kampungnya merupakan sumber mata air utama untuk beberapa daeah
disekitarnya.
Kini
kusadari Desa maupun kota memiliki keindahan tersendiri,tergantung bagaimana
kita menanggapi dan mensyukuri keberadaan kita dan keberadaan alam tersebut
yang kemudian menjadi saksi bagi kita bahwa Sang Pencipta benar-benar ada dan
Maha Besar.Allahu Akbar.






0 komentar: