SAKURA di Negeri Hujan
Hujan bulan ini terus berguyur menemani air mata rindu
padamu.Engkau yang dulu ada menggenggam tanganku,kini terbaring panjang dalam
keabadian.Maka pintaku kini,biarkan hujan menemani airmataku dan menyampaikan
asaku dengan tetesannya diatas nisanmu.Biarkan rasa kita tetap bersatu walau
dunia mengakhiri.
Yudha kembali terpekur diperpustakaan kampusnya.Kata
‘hujan’ seakan telah tertanam jauh diurat-urat sarafnya.walau demikian,dia tak
pernah bosan membaca cerpen racikan Sakura.
Entah sejak kapan cerpen Sakura telah merasuki
otaknya,yang dia ingat disetiap cerpen Sakura kata ‘hujan’ selalu melekat dan
menyatu dalam setiap frase.Bukan hanya kata ‘hujan’ yang membuatnya tertarik
tapi penghayatan yang mendalam dan kata-kata yang tak pernah dikiranya bahwa
diotak bagian mana Sakura menemukan kata itu.
Seperti hari ini,Yudha kembali membaca karya Sakura
disebuah koran harian Nasional dan seperti biasa,dia tak pernah membacanya
hanya sekali baca tapi berulang-ulang.Dia merasa rindunya pada sang peracik
kata tak pernah berakhir hanya dengan sekali baca.
SAKURA,entah mengapa Yudha merasa bahwa Sakura sang
pecinta hujan adalah sosok yang merindukan kekasih yang berjiwa teduh namun
teguh,dan orang itu adalah dirinya.Karenanya,disetiap hujan Yudha terus mencari
makna hujan agar ketika bertemu Sakura dirinya telah benar-benar menjadi sosok
bersifat hujan yang teduh dan teguh.
Informasi tentang Sakura dicarinya dimana-mana.Di
facebook,di Twitter,juga mengoleksi setiap karya Sakura yang
dibacanya.Namun,tampaknya pencariannya tidak berjalan semulus turunnya
hujan,yang dia temukan hanya sebuah blog yang kebetulan tertulis di sudut tulisan
Sakura di sebuah harian ibukota.’www.Sakura di Negeri Hujan.com’ demikian nama
blog tersebut.
Maka tak menunggu waktu lama,Yudha segera membuka
laptop dan mencari blong Sakura.Ditelusurinya setiap jengkal blog
tersebut,diresapinya setiap sari-sari makna yang tertulis.Namun,sepertinya
Yudha harus menyadari bahwa cinta akan datang tepat pada waktunya meski harus
menunggu berpuluh atau beratus tahun.


0 komentar: