Alam sebagai saksinya

16.51 Unknown 0 Comments


‘’Lihat ri,matahari sudah mau terbenam’’.ucap farah kepadaku.
  
’oh,mana ukh?’’.sahutku antusias.lalu farah menunjukkanku sebuah garis keoranyean di balik gedung yang menjulang dihadapan kami.

Farah,saudariku seiman yang amat ku sayangi dan menyayangiku.Aku menganggapnya sama seperti saudara kandungku sendiri.Islamlah yang telah mempertemukan kami dalam sebuah majelis ilmu pekanan yang sering kami sebut sebagai liqo,yaitu pertemuan pekanan dimana kami saling bercerita,belajar dan saling menyemangati setiap pekannya sehingga setiap hari dalam sepekan tersebut kami mampu menguatkan diri untuk selalu meningkatkan kualitas diri baik secara duniawi maupun ukhrawi.Di pertemuan itu pulalah pupuk persaudaraan ini timbul.

Kesenanganku dan farah ketika pulang dari liqo setiap hari jumat sore yaitu berjalan kaki  ditrotoar pejalan kaki pettarani depan PT.Telkom.Farah senang melihat matahari terbenam dibalik gedung-gedung yang menjulang tinggi. Farah tak pernah bosan memandang matahari walau penghalangnya yang berupa gedung-gedung tinggi sudah tak terhitung lagi jumlahnya.

Ketika farah sibuk memperhatikan matahari,aku lebih sering memandang anak-anak matahari yang mulai lahir ketika petang menjelang.Anak-anak matahari itu banyak sekali jumlahnya. ratusan bahkan mungkin ribuan anak matahari yang melewati kami,mereka bertengger disetiap kendaraan,menciptakan harmoni tersendiri.terutama ketika suara klakson dan peluit polisi lalu lintas maupun relawan-relawan yang membantu mengamankan jalanan seirama dengan anak-anak matahari yang menyala tersebut.inilah yang paling kusenangi,ketika kubayangkan anak-anak matahari itu menemani sebuah kendaraan seorang ayah yang sudah dinantikan oleh anak dan istrinya dirumah untuk berakhir pekan.atau mungkin menemani seorang relawan yang akan segera mengantarkan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan dan sudah menantinya dengan penuh kesenangan.aah,indahnya sore dihari jum’at.

Aku selalu yakin bukan hanya aku yang menyadari keindahan ini karena kulihat pelanggan es kelapa yang berjejer disepanjang trotoar selalu penuh disore hari.Mereka singgah melepas penat,bercengkerama dengan teman sambil menikmati riuh rendahnya kesibukan kota,itulah yang mereka lakukan.Walaupun banyak pula yang menggerutu karena debu yang beterbangan tak mengenal arah.

‘’Eh,ri..kita ingat dua tahun lalu waktu masih kelas 1 SMA ki?selaluki dulu jalan bertiga di’ setiap pulang liqo?’’.tanya farah.
‘’Iya dong,saya ingat..duh,kangenku deh sama naila..’’sahutku.
‘’Iya..bagaimana kabarnya itu saudarita di’?’’
‘’Hem,entahlah ukh..semoga dia tetap istiqomah di jalan-Nya.yang penting adalah kita tak pernah melupakannya disetiap doa kita’’.
‘’Iya,semoga yang terbaik selalu dia dapatkan dan mudah-mudahan kita bisa bertemu kembali ya ukh’’.
‘’Youp..’’.

Percakapan seperti inilah yang membuatku nyaman bersama saudari-saudariku di liqo terutama farah.percakapan yang tak pernah mencoba untuk mengungkapkan aib bahkan untuk bersu’udzon pun selalu kami usahakan untuk terhindar darinya.kata murobbyah (istilah pembimbing di liqo akhwat) kepada kami bahwa ketika kita membicarakan aib saudara sendiri sama dengan memakan dagingnya.Oleh karena itu,yang sebaiknya dilakukan adalah mendoakan dan berhusnudzon kepadanya walaupun gibah telah menyebar disekitar kami tentangnya.Ketika tidak kuat menahan atau sangat penasaran akan kebenaran ghibah tersebut maka sebaiknya bertabayyun (atau menanyakan langsung kepada orang yang bersangkutan).Begitulah kami mengikat persaudaraan.Yang kami lakukan adalah saling menyayangi,saling menasehati,mengingatkan ketka khilaf,saling menyemangati dan saling mendoakan.Aku selalu bertanya bahwa adakah persaudaraan yang lebih indah dari ini?

Setelah tiba dirumah,aku menunaikan shalat magrib.Ketika doa kupanjatkan,aku teringat kembali saudariku naila yang sudah dua tahun tak pernah lagi kutatap rupanya.rupanya yang cantik,kerudungnya yang menandakan kesungguhannya dalam keinginan untuk meningkatkan aktualisasi diri,ucapannya yang selalu menyegarkan hati sesegar udara kampung yang selalu diceritakannya.Dia kembali ke kampung halamannya ketika sosok yang dihormati dan dicintainya mendahuluinya menghadap Rabb alam semesta.

Aku,Farah dan Naila adalah saudari dalam satu liqo’.Persahabatan kami sangat erat,tak pernah kurasakan sebelumnya keindahan persahabatan seperti indahnya persahabatan kami.Naila berasal dari sebuah desa di ujung Kab.Bone selatan tepatnya kec.Kajuara desa waetuo.Dia melanjutkan sekolah dimakassar dan tinggal dirumah pamannya.Naila tak pernah mengeluh walau kulihat raut kelelahan setiap pagi tercermin diwajahnya ketika kami bertemu disekolah.Raut yang menggambarkan bagaimana kerasnya ia bekerja dan belajar setiap hari.Dia belajar setelah sholat isya ketika pekerjaan membantu tantenya untuk menyiapkan makan malam dan mencuci piring telah tuntas.Tak pernah mengenal putus asa atau bermanja-manja,dia menuntaskan semua tugas rumah dan mengulang pelajaran untuk hari berikutnya.Pukul tiga subuh dia terbangun untuk shalat tahajjud dan mengulang hafalan al-qur’an,setelah itu dia tidak akan melanjutkan tidur karena harus bersiap-siap mengambil Koran di kantor penerbit untuk diantarkan kerumah pelanggan.Dia menggunakan motor pamannya yang dipinjamnya setiap hari untuk mengantarkan Koran,namun harus di kembalikan sebelum naila berangkat kesekolah.Pamannya sangat baik hati dan pengertian,dia mengerti bagaimana naila ingin berusaha membiayai diri sendiri dari hasil keringatnya,walaupun sebenarnya sudah berpuluh kali dia meminta naila untk berhenti mngentarkan Koran ,karena dia ingin mmbantu keponakannya tersebut.Namun,naila yang berjiwa mandiri dan penuh semangat  selalu mampu mengalahkan argumennya.

Begitulah kehidupan naila yang selalu kukagumi,hidupnya yang selalu semangat dan optimis.

Ketika Sosok ayah yang dicintai naila sudah dipanggil oleh Rabb-nya,Naila tak pernah mengeluh maupun mengurung diri.Dia selalu percaya bahwa Allah akan menerima ayahnya yang baik itu di di sisi-Nya.Namun hari itu,aku terheran-heran dan ikut tersentuh ketika air matanya bercucuran tak mampu tertahankan lagi ketika tiba saatnya untuk menyampaikan kabar kami dalam satu pekan dalam agenda liqo yang kami jalani.Ketika tiba gilirannya,dia hanya tertunduk memegang erat tanganku yang berada di sampingnya,kuusap tangannya,kuharap dengan itu dia bisa tenang dan kembali menemukan dirinya yang penuh semangat.Namun,dia kembali terisak hingga kamipun tak tahan untuk tak ikut menangis.10 menit sudah berlalu,orang-orang didalam mesjid tempat liqo kami sudah berhenti menatap kami yang saling berpegangan untuk saling menenangkan,kemudian naila membuka suara yang sudah kami tunggu-tunggu dari tadi..

‘’Kabar saya pekan ini,Alhamdulillah baik,keluarga juga baik’’..kami menghembuskan nafas pelan.tak lama kemudian,Naila melanjutkan ucapannya.’’Namun,pada kesempatan ini,saya ingin meminta maaf kepada akhwat (istilah untuk saudari seiman) yang hadir hari ini maupun yang tidak sempat hadir.Tolong doakan saya semoga saya istiqomah.Saya tak akan pernah melupakan ukhuwah(persaudaraan) yang telah terjalin dilingkaran kecil ini (istilah lain untuk liqo).InsyaAllah,besok sore saya sudah harus kembali kekampung saya di Bone untuk berbakti kepada orang tua.Saya ingin menemani ummi saya yang tinggal sendiri di rumah kami.Doakan saya ukh,semoga niat saya ini diridhoi oleh-Nya.InsyaAllah saya akan mendapatkan saudari-saudari baru disana baik disekolah maupun diliqo baru saya nantinya.aamiin’’.

Tak terelakkan lagi,tangis kami pecah..kami bersama-sama merangkul naila,saling bermaafan dan tak ingin melepaskannya.Kami ingin naila menyadari bahwa dimanapun kami berada ukhuwah karena Allah akan tetap terjalin walaupun hanya melalui doa-doa kami.

Akhir ajaran baru telah tiba,saya dan Farah disibukkan dengan persiapan menghadapi ujian Nasional yang sudah di ujung penglihatan.Kursus di sekolah maupun bimbingan belajar kami ikuti,belajar siang malam tak pernah bosan kami jalani.Namun demikian liqo tetap menjadi agenda utama.Agenda yang memicu semangat kami untuk berusaha lebih keras lagi dalam meningkatkan cara belajar dan giat beribadah.Semua itu ku lalui hingga UN serentak tiba dan menghasilkan nilai yang memuaskan.

Ujian Nasional sudah selesai,saatnya kami mendaftar di universitas yang kami impikan.Aku mendaftar di Universitas Indonesia dan Universitas Uin Alauddin Makassar,sementara farah mendaftar di Universitas Negeri Makassar dan Universitas Pertanian Bogor.Dan Alhamdulillah aku dan farah lulus di kedua universitas tersebut.Tapi,Kami harus memilih salah satu di antaranya.Kuliah perdana juga masih menunggu satu bulan kemudian.

Hari jumat sore yang indah,aku dan farah kembali menyusuri trotoar ujung pettarani ketika tiba-tiba ponselku berdering dan ternyata yang menghubungiku adalah saudariku yang telah lama kurindukan suara dan kehadirannya.Saudari yang selalu mendoakanku disetiap ujung malamnya,saudariku yang kucintai karena Allah.Naila mursihah.

Indah suaranya mengalihkan perhatian kami dari memandang matahari dan anak-anaknya yang mulai ramai.
‘’Riani dan Farah,bagaimana kabar kalian ukh??kangen sekali ka ee’’..ucap Naila.
‘’Iya,kangen..alhamdulillah baikji ukh,kita iyya??’’.ucapku serempak dengan farah.

Percakapan kami berlanjut hingga tiba-tiba Naila memberikan berita yang sangat menggembirakan.
‘’Ukh,minta maafka’ tidak bisaka’ kirimkanki undangan.tapi saya mohon hadirki nah..insyaAllah dua pekan kedepan saya walimah’’.
‘’Barokallah laki yaa ukhty..insyaAllah kami akan hadir,tapi kami tidak tahu kerumahta’’.
‘’Ah,gampang ukh..sudah saya atur..satu hari sebelm hari –H kerumahnyaki om ku,nanti samaki om ku kesini nah..Murobbiyah juga sudah saya hubungi,insyaAllah sebentar saya hubungi akhwat yang lain’’.
‘’Okey deh ukh,insyaAllah siap meluncur..tak sabarma mau ketemu’’.

Satu hari sebelum hari H kami sudah melaju kerumah Naila.Seperti yang sering diceritakan Naila.Menuju kerumahnya seakan-akan berjalan menuju surga.Walaupun penuh dengan rintangan karena jalanan yang berkelok-kelok di daerah yang kami harus lewati yaitu sekitar daerah camba kab.Maros namun semua akan terbayarkan ketika memandang matahari yang akan tenggelam,sawah menghijau yang bersusun apik dan membentuk tangga yang indah..langit yang biru dan awan yang putih jelas terlihat diatas kami..Subhanalloh,belum lagi udaranya yang segar,lebih segar dari embun dipagi hari di kota Daeng.Betapa Maha Besarnya Sang Pemilik karya keindahan ini.Mulut kami tak pernah terlepas dari dzikir mengagumi kebesaran Sang Maha Karya.

Tiba dirumah Naila,keindahan Ciptaan Allah berupa alam terlengkapi dengan hadirnya keindahan Ukhuwah islamiyah yang  terjalin diantara kami.Tak hentinya kami betukar cerita tentang hidup kami dan alam ciptaan Allah yang mampu menyegarkan mata dan fikiran kami.

Yang paling dibanggakan Naila dari kampungnya adalah air yang mengalir jernih setiap waktu.karena kampungnya merupakan sumber mata air utama untuk beberapa daeah disekitarnya.

Kini kusadari Desa maupun kota memiliki keindahan tersendiri,tergantung bagaimana kita menanggapi dan mensyukuri keberadaan kita dan keberadaan alam tersebut yang kemudian menjadi saksi bagi kita bahwa Sang Pencipta benar-benar ada dan Maha Besar.Allahu Akbar.

0 komentar: